Warga bersama Satgas TMMD Ke 105, Ikuti Tradisi Balang Sega di Sedekah Bumi Desa Tondomulo, Kedungadem

101

BOJONEGORO (RAKYAT INDEPENDEN) – Ada yang berbeda dalam acara Sedekah bumi yang berlangsung di Desa Tondomulo Kecamatan Kedungadem Kabupaten Bojonegoro Jawa timur Rabu (17/7/2019).

Hal itu dikarenakan acara berbarengan dengan kegiatan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-105 Tahun 2019 Kodim 0813 Bojonegoro. Berbaurnya warga dengan Satgas TMMD membuat kegiatan makin semarak dan cukup meriah.

Dengan ikutnya Satgas TMMD di acara sedekah merpakan ‘spirit 105’ dalam penyelenggaraan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) k 105, tim ekspedisi Penerangan Korem (Penrem) 082/CPYJ juga turut menelusuri serba serbi desa ini, termasuk dengan tradisi dan budayanya warga di tepi hutan jati itu.

Dalam sedekah bumi di situ, terdapat Tradisi sawuran ‘balang sega’ atau istilah lainnya perang nasi diadakan oleh warga Desa Tondomulo, tiap bulan ‘Suro’ dalam rangka ‘bersih desa’ Desa Tondomulo tersebut.

“Tradisi tersebut, dilakukan untuk mengungkapkan rasa syukur atas hasil pertanian atau hasil bumi di desa tersebut. Meskipun teknologi, dan kehidupan saat ini sudah modern, namun tradisi yang di anut oleh warga tidak tergerus oleh jaman,” demikian disampaikan Peltu Lasuri, yang turut dalam prosesi ritual tersebut, Rabu (17/7/2019).

Masih menurut Peltu Lasuri, Peltu Lasuri, Desa Tondomulo sendiri tidak termasuk dalam ‘zona angker’ di Bojonegoro yang diduga menyimpan sejuta misteri, mistis, dan mitos, baik kasat mata maupun pandangan normal.

“Tradisi balang sega secara rutin diadakan berdekatan dengan Punden ‘Sendang Panji’, sosok yang pertama kali ‘babad desa’ atau cikal bakal terbentuknya pemukiman penduduk desa,” sambungnya.

Sebelumnya, Kades Tondomulo bersama perangkat desanya dan anggota Satgas TMMD berjalan bersama arak arakan gunungan dengan diikuti oleh warga tiga dusun yakni Dusun Jantok, Tondomulo dan Dusun Kedungbulus. Mereka berbondong-bondong menuju tempat dimana ritual tersebut akan dilaksanakan.

Kepala Desa Tondomulo, Yanto, menjelaskan bahwa panganan yang digunakan untuk tradisi balang sega atau perang nasi ini dibawa oleh warga sudah dalam keadaan terbungkus dengan daun pisang.

“Biasanya nasi itu dibarengi dengan lauk-pauk seperti ikan, tahu, dan tempe sebagai wujud syukur atas rejeki yang telah diberikan oleh Tuhan,” ucapnya.

Usai digelar sedekah bumi dan berdoa bersama, baru diaksanakan tradisi balang sega atau perang nasi ini. Ritual tersebut, semua warga yang sudah membawa panganan ritual di wajibkan untuk mengumpulkannya.

Secara otomatis nasi itu dikelilingi oleh semua warga desa untuk bersama-sama memanjatkan doa kepada Tuhan. Semua warga yang hadir memanjatkan doa untuk upacara ritual, agar apa yang mereka lakukan ini dapat diberi berkah dan kelancaran lebih di kemudian hari.

Peserta balang sega ini diikuti oleh seluruh kalangan masyarakat desa, mulai dari orang tua, dewasa, remaja hingga anak-anak.

Tradisi balang sega tersebut, dilakukan dengan hati gembira. Tidak untuk tawuran kekerasan pada umumnya. Seluruh warga desa saling lempar nasi yang telah dibungkus sebelumnya kesegala arah.

Tak heran, jika siapapun yang ada dalam ritual tersebut bisa jadi korban lemparan. Semua dilakukan dengan penuh suka cita tanpa ada rasa dendam. Saling lempar kesana kemari hingga tertawa terbahak-bahak, meskipun badan sudah berlumuran nasi.

Tradisi balang sega baru akan selesai jika, nasi yang dikumpulkan sudah habis sebagai alat perang. Namun, nasi-nasi yang tidak tertangkap dan jatuh di jalanan, akan diambil oleh para warga untuk dimanfaatkan sebagai pakan ternak.

**(Kis/Red).

Loading...

Comments are closed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More

Privacy & Cookies Policy