Semburan Lumpur di Bojonegoro, Kades Batokan Potensi Pencemaran Lingkungan

12

Bojonegoro – Semburan lumpur bercampur cairan menyerupai minyak mentah di Desa Batokan, Kecamatan Kasiman, Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur, kecil kemungkinan menimbulkan potensi pencemaran lingkungan.

“Kalau pencemaran kecil ya. Hanya sekitar pekarangan saja. Di sekitaran sumur,” kata Kepala Desa Batokan, Erwin Rizaldi
Rabu (5/2/2020).

Meskipun hujan deras, lanjut dia, cairan coklat menyerupai minyak itu tidak sampai ke Sungai Bengawan Solo karena cukup jauh.

“Juga tidak akan sampai kali,” ucapnya.

Disampaikan, hari ini Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Bagian Sumber Daya Alam (SDA) Bojonegoro datang ke lokasi untuk memantau langsung kondisi terkini bekas semburan lumpur.

Loading...

“Sekarang sudah tidak ada semburannya. Hanya letupan gelembung dari dalam sumur,” tegasnya.

Sebenarnya, lanjut Erwin, peristiwa tersebut adalah hal biasa.

“Karena media sosial, kejadian ini jadi tampak luar biasa,” tuturnya.

Namun demikian, Erwin mengakui jika semburan berbeda dari waktu sebelumnya. Biasanya hanya gelembung kecil.

“Tapi semburan kemarin agak ekstrim karena semburannya cukup tinggi. Mencapai 2meter. Itu Karena curah hujan tinggi, sehingga mengakibatkan tekanan cukup besar. Gas jadinya naik. Sekarang sudah berhenti, tinggal letupan kecil saja,” ungkapnya.

Menurut penuturan masyarakat, lanjut Erwin, ada sekira 7 titik sumur yang ada di desanya. Akan tetapi belum semua diketahui. Karena sudah tertimbun tanah.

Lokasi tersebut diantaranya berada di sawah belakang balai desa, di perbatasan Dusun Bandar, Desa Batokan dengan Desa Betet, belakang rumah mantan Sekretaris Desa masih lengkap dengan kepala sumur, dan di lokasi semburan.

“Yang lebih tahu seharusnya Pertamina,” tandasnya.

Di lokasi perbatasan desa sempat dilaporkan ke Pertamina EP karena mengeluarkan gas dan bau.

“Tapi Hanya dilihat. katanya tidak apa-apa,” kata Erwin.

Ditanya terkait setatus kepemilikan sumur, dia mengaku tidak tahu pasti.

“Tapi, kalau migas kan dikuasai negara. Berarti milik Pertamina,” ujarnya.

Karena sekarang sumurnya berada di lahan warga, bisa jadi Pertamina enggan melanjutkan.

“Harus ribet dengan pembebasan lahan,” pungkasnya.

Dikonfirmasi terpisah, Legal and Relation Staff Pertamina EP Asset 4 Field Celu, Angga Aria, menyatakan belum bisa memberi penjelasan apakah sumur-sumur migas tersebut masuk Wilayah Kerja Pertambangan (WKP) Pertamina EP Asset 4 Field Cepu.

“Kalau itu kami belum tahu,” sambung Angga.

Pihaknya hanya melakukan tindakan sebagai bentuk tanggung jawab lingkungan. Terutama terdekat dengan lokasi kejadian semburan sumur.

(Yas)

Loading...

Comments are closed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More