Mbah Suradi dan Warga Tegalkodo, Sukosewu, Masih Suka Tanam Tembakau

65

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

BOJONEGORO (RAKYAT INDEPENDEN) – Musim kemarau tahun 2019 ini, warga di wilayah Kabupaten Bojonegoro, Jawa timur, tak banyak yang menaman tembakau jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Hal itu disebabkan petani banyak beralih ke tanaman palawija seperti jagung ,kedelai dan kacang hijau. Selain itu, juga disebabkan musim padi tanam kedua (Walik’an, Jawa red) panennya agak terlambat sehingga lahan sudah terlalu keras akibat musim kemarau.

Tak hanya itu, keengganan petani di Kota Minyak ini diakibatkan harga tembakau belakangan ini yang teros merosot alias kurang bagus.   

Namun, masih banyak juga petani yang masih berspekulasi menanam tembakau walaupun harganya yang naik turun dan tak bisa diprediksi.

Petani tembakau mensiasatinya dengan menanam tembakau Jawa. Pasalnya, tembakau jawa itu diperuntukkan rajangan dan memiliki pasar sendiri sehingga harganya lebih stabil jika dibanding dengan tembakau jenis Virginia atau yang biasa disebut tembakau BAT.

Suradi (85) seorang petani tembakau asal Desa Tegalkodo, RT 001, RW 002, Kecamatan Sukosewu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa timur, hingga tahun ini, masih suka menanam tembakau jika dibanding dengan menanam palawija.

“Saya masih “seneng” menanam tembakau. Ini saya tanam tembakau Jawa. Karena mudah menjualnya dan harganya cukup bagus,” ungkap pria yang akrab disapa Mbah Suradi itu, Kamis (22/8/2019)).

Masih menurut Mbah Suradi, dirinya menaman 2600 bibit tembakau di lahan yang berada di timur rumahnya itu. Tembakau yang ditanam di akhir Bulan Juni lalu itu, kini sudah setinggi lutut dan berumur sekitar 40 hari.

Loading...

Agar tanaman tembakaunya subur dan berkembang dengan baik, pria yang masih nampak sehat di usia kepala 80 itu, membuat sumur pompa di lahanya itu untuk dimanfaatkan menyiram tanaman tembakau kesayangannya itu.

“Tanaman tembakau ini, saya rawat dengan saya siram secara rutin, dipupuk dan saya kasih obat. Agar bisa panen dengan baik dan harga jualnya juga cukup bagus,” kata Mbah Suradi dengan penuh harap.

Berdasarkan pantauan rakyatindependen.co.id di laapngan menyebutkan, selain Mbak Suradi, masih ada puluhan hektar sawah warga yang ditanami tembakau di wilayah Desa Tegalkodo dan sekitarnya itu.

Sementara itu, Plt Dinas Pertanian Bojonegoro Helmy Elisabeth melalui Kabid Tanaman Perkebunan Zainal Fanani mengatakan bahwa di tahun 2019 ini, tanaman termbakau masih ditanam di 11 wilayah Kecamatan.

Masih menurut Zainal Fanani, ada 3 jenis tembakau yang ditanam yakni Virginia, Jawa dan RAM. Untuk Virginia ada 6.027 hektar dengan 17.489 petani. Tembakau Jawa ditanam di 4.249 hektar dengan 12.875 petani dan tembakau jenis RAM ditanam di lahan seluas 1.456 hektar dengan jumlah petani sebanyak 2.953 hektar.

“Tanaman tembakau dari ketiga varietas yang ditanam petani tembakau di Kabupaten Bojonegoro itu dengan jumlah lahan seluas 11,420 hektar dengan jumlah petani sebanyak 33.317 orang,” tegasnya, Kamis (22/8/2019).

Adapun wilayah yang petaninya menanam tembakau diantaranya, Kecamatan Tambakrejo, Malo, Padangan, Ngasem, Kasiman, Sugihwaras, Ngraho, Purwosari, Kedungadem, Sukosewu, Ngambon, Margomulyo, Kalitidu dan Gayam.

**(Kis/Red).

Loading...

Comments are closed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More