Jenderal Wardiyono ‘Dipetuahi’ Pedagang Kaki Lima

32

Vox populi vox dei. Tentu saja adagium lamaberarti suara rakyat suara Tuhan ini tidak meluncur begitu saja dalam ungkapan Edi Soebagyo (58 tahun), seorang pedagang kaki lima (PKL) di sebelah barat alun-alun kota Bojonegoro.Tetapi adat dan tata krama ‘jalanan’ tidak menutupi sikap Edi untuk meluapkan perasaan bangganya ketika bertemu Jenderal Wardiyono yang mampir ke kios rokoknya malam itu. Edi mencatatkankesan kuat perjumpaan itu sekaligus memperlihatkan di hadapan Jenderal Wardiyono sebuah potret sebenarnya keinginan rakyat Bojonegoro yang sudah lama tertunda, juga bagian dirinya sendiri sebagai pedagang kaki lima.

A ras del sueno (pada tingkat impian)? Tentu saja Edi memang sangat menyederhanakan keluasan riil bagaimana kondisi obyektif petani Bojonegoro yang tidak selalu bisa bekerja sepanjang musim, atau pengangguran pemuda, kesempatan sempit dan upah murah.

Tetapi Edi bisa menggamblangkan alasan bagaimana padagang kaki lima di Bojonegoro bermula, terutama perencanaan ruang tata kota yang hanya terfokus pada ruang-ruang formal yang menampung kegiatan formal saja. Seiring berjalannya waktu, keberadaan ruang-ruang formal kota tersebut mendorong munculnya kegiatan informal kota salahsatunya di sektor perdagangan, yaitu pedagang kaki lima sebagai kegiatan pendukung (activity support).

Edi mengakui, karakteristik PKL yang menggunakan ruang untuk kepentingan umum, terutama di pinggir jalan dan trotoar melakukan aktivitasnya, mengakibatkan tidak berfungsinya sarana-sarana kepentingan umum. Tidak tertampungnya kegiatan PKL di ruang perkotaan, menyebabkan pola dan struktur kota modern dan tradisional berbaur menjadi satu sehingga menimbulkan suatu tampilan yang kontras.

“Pada malam hari, kemegahan gedung lantai tujuh berdampingan dengan tenda kumuh kaki lima,” kata Edi, sambil matanya menatap kosong bangunan baru Pemkab Bojonegoro.

Sektor informal aktivitas pedagang kaki lima di Bojonegoro belum pernah disebut resmi. Elemen yang tertampung dalam sektor ini adalah yang berpendidikan kurang, dan ketrampilan minim.

“Menangkan hati rakyat dengan memberi lapangan pekerjaan, bukan peraturan yang mengusir kami,” seru Edi sebagai surat terbuka kepada Jenderal Wardiyono.

Lontaran keluhan kesulitan rakyat serupa Edi tersebut sungguhtelah didengarkan dengan kepenuhan hati dan pikiran Jenderal Wardiyono, sepanjang kunjungannya di pelbagai lapisan untuk menunjukkan sosok serta kepribadiannya selaku calon Bupati Bojonegoro.

Betapa pun, kekuasaan bukanlah sekerat daging bergizi dan tak selalu mudah dikunyah bukan Jenderal?

“Tak ada yang lebih kuat dari kelembutan, itu suara rakyat,” tutur Jenderal berbintang satu ini ketika mendapat kunjungan rakyatindependen.co.id di kediamannya beberapa waktu.

“Tak ada yang lebih lembut dari kekuatan yang tenang, dan itu watak dasar Jenderal Wardiyono. Hasta la victoria siempre! (Maju terus menuju kemenangan),” kata Edi yang disalin ke dalam gaya bahasa penulis. (Agung DePe).

Loading...
Comments
Loading...