Fitri Gadis Kedungpring, Lamongan 17 Tahun Hidup Dengan Tumor Mata, Nasibnya Kini

22

Lamongan – Fitri Gadis Kedungpring, Lamongan 17 Tahun Hidup Dengan Tumor Mata, Nasibnya Kini, Bayangkan jika anda mengidap tumor mata selama kurang lebih 17 tahun lamanya, dan tidak memiliki biaya untuk pengobatan apalagi Operasi, hal inilah yang terjadi pada seorang Fitri Wulandari, Warga Dusun Drojok, Desa JatiDrojok, Kec Kedungpring , Kab Lamongan.

mengisahkan pada mulanya ia mengalami sakit gigi yang membuat pipinya membengkak saat masih duduk di bangku SD.

“Saat itu sekitar tahun 2001. Awalnya sakit gigi, bengkak terus dibawa ke rumah sakit biar kempes dan dikontrol 3 kali sampai sembuh,” paparnya.
Namun setelah sakit giginya sembuh, ia merasakan ada benjolan di bagian wajah sebelah kiri, tepatnya di sekitar hidung. Dikira Fitri itu hanyalah benjolan biasa. Akan tetapi benjolan itu membesar dari waktu ke waktu.

Karena penasaran, ia pun memeriksakannya. “Setelah diperiksa ternyata kata dokter mengidap tumor,” tutur dadis yang kini berusia 28 tahun ini.

Baca juga :  Kecelakaan Di MTsN Babat, Lamongan Satu Orang Meninggal Dunia

Sejak saat itu, Fitri mengaku keluarganya sudah berupaya sekuat tenaga untuk membawanya berobat. Kondisi ekonomi yang tergolong lemah membuat keluarganya tidak mempu memberikan pengobatan secara maksimal.

Ia pun terpaksa tidak melanjutkan sekolah ke tingkat SMP karena penyakit yang dideritanya sering kambuh. “Sudah pernah diobati, tapi nggak maksimal karena nggak punya biaya,” ujarnya.

Penderitaan yang dirasakan Fitri semakin bertambah setelah ibunya meninggal dunia pada tahun 2005 silam. Tinggal Fitri bersama sang ayah, Pardi (72) dan kakaknya, Hambali (30).

“Karena kepikiran melihat kondisi saya seperti ini, penyakit paru-parunya kambuh hingga meninggal dunia,” tutur Fitri mengenang sembari sesekali mengusap air matanya.

Belum usai duka yang menyelimuti keluarganya, giliran ayah Fitri yang mengalami musibah. Tangan kirinya digigit ular saat mencari rumput di hutan sehingga terpaksa diamputasi.

Hambali sendiri terlahir dalam keadaan tuna netra sehingga tidak mampu berbuat banyak untuk keluarganya. Untuk itu, Fitrilah yang harus mengurus semua kebutuhan ayah dan kakaknya, serta mengurus rumah, termasuk memberi makan ayam, bersih-bersih rumah, memasak dan mencuci pakaian.

Kini tumor yang menyerang Fitri sudah semakin membesar hingga mulai mengganggu pernafasannya. Fitri pun terpaksa bernapas menggunakan mulutnya. Penglihatannya pun hanya berfungsi sebagian.

“Kalau kambuh kemerahan terus sakit kepala kayak vertigo dan kalau sujud itu rasanya sakit banget, kayak mau copot, nyut nyut,” tutur Fitri

Bila hal ini terjadi, Fitri hanya meminum obat antinyeri yang dibelinya di warung dekat rumah.

Lebih lanjut Fitri mengungkapkan, sejauh ini pemerintah belum serius untuk membantu kesembuhannya. “Dulu sempat katanya didaftarkan seperti jalinan kasih atau apa gitu, tapi nggak ada kelanjutannya sampai sekarang,” ungkapnya.

Hal yang sama juga diutarakan oleh Pardi. Ia berharap benar-benar ada penanganan serius untuk anaknya.

“Kemarin dokter dari RSUD Ngimbang datang ke sini sama bu bidan meriksa Fitri, dan katanya hari senin dirujuk ke RSUD Ngimbang. Semoga Fitri benar-benar bisa sembuh, karena pernah ada bantuan dari pemerintah, tapi tidak ada tindak lanjut,” tutur Pardi.

Baca juga :  Penemuan Bangunan Bersejarah Di Sambeng, Lamongan

Pardi menambahkan pemerintah desa setempat juga sudah pernah membawa Fitri ke rumah sakit dan pernah menjalani operasi karena bengkak di bagian tumornya mengeluarkan nanah dan darah.

“Kondisi anak saya sempat membaik, namun benjolan di wajahnya tumbuh lagi dan terus membesar,” aku Pardi.

Kini Fitri dan keluarga hanya bisa berharap para dermawan maupun pemerintah mau melanjutkan pengobatannya. “Pengennya dirujuk ke rumah sakit, dioperasi biar bisa sembuh. Tapi sekarang ya hanya ikhtiar dan sabar saja,” harapnya.

Sumber: detik.com