Saatnya Kebangkitan Majapahit

8

Nukilan percakapan Agung DePe dengan Permadi SH

Gorengan pemilu presiden RI tahun 2014 sudah tidak hangat lagi.Pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla jadi pemenang, meski dengan jumlah suara beda tipis tetap memundurkan pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.

Hanya saja kalau dikaitkan ke dalam Jangka Jayabaya,kedua capres tersebut, baik Joko Widodo ataupun Prabowo Subianto belum direstui Tuhan untuk memimpin negeri ini.

Permadi SH membedah tafsirkan Jangka Jayabaya tersebut. Menurut Permadi kepada penulis melalui beberapa kali telephon waktu lalu, keruntuhan jabatan Presiden Joko Widodo paling lama sampai tahun 2016. Hal itu bukan tanpa sebab, sebelum Joko Widodo jatuh akan ada goro-goro atau geger besar melebihi tragedi kebangsaaan 1965.

Lalu bagaimana ramalannya seandainya kursi presiden pada saat ini diduduki oleh Prabowo Subianto? Permadi mengatakan, Prabowo belum mendapat restu menjadi presiden. Apalagi jika dia maju dalam pemilihan presiden 2019 nanti, Prabowo diyakini juga bakal kalah.

“Tidak akan bisa, tidak bisa Prabowo menang, Tuhan tidak menghendaki itu. Kalau Prabowo menang masih akan lama Indonesia rusak porak-porandanya, karena Prabowo punya ketegasan. Oleh karena itu harus dipimpin oleh orang yang memble, yang gak ngerti apa-apa, yang kalau membuat keputusan belum dijalankan sudah dicabut”.

Ramalan Notonegoro menurut anda itu apa?” Notonegoro itu bukan Jangka Jayabaya. Itu ramalan profesor doktor, guru besar di Yogyakarta. Dia mengatakan lihat saja nanti presiden di Indonesia itu mengikuti nama saya Notonegoro. Itu akal-akalan profesor saja. Jayabaya akan mengatakan satria piningit,” jelas Permadi.

Apakah satria piningit ini masuk keturunan raja Majapahit?” Memang ada kaitannya, dan inilah saat kebangkitan kerajaan Majapahit. Majapahit kan jatuh di tangan Brawijaya Pamungkas, lalu dijatuhkan oleh anaknya, setelah itu Brawijaya bersumpah, memang saat ini jatuhnya Majapahit tetapi ingat sekian ratusan tahun mendatang akan saya tagih kembali. Nah, pada saat Majapahit jatuh akhirnya itu sirna ilang kertaning bumi, hilang lah kesejahteraan dan kemakmuran di nusantara. Sekarang ini tidak hanya sirna ilang kertaning bumi, hilang lah angkara murka kemudian akan muncul kejayaan bumi kembali, kembalilah kejayaan Majapahit,” ulas Permadi.

Menurut anda Prabowo bisa maju mengambilalih kursi kepresidenan tahun 2016?“Terserah dia berani atau tidak? Tinggal nunggu berjuangnya saja. Kalau tidak akan terlambat, buat apa nunggu pemilu akan datang?” papar Permadi.

Anda mengatakan bahwa anda penyambung lidah Bung Karno?”Kalau itu saya sadar, saya sangat bangga dibilang penyambung lidah Bung Karno. Mengapa? Bung Karno bagi saya adalah manusia dewa, pikirannya tidak bisa dicerna cemerlang sekali, 100 tahun baru bisa dijangkau. Dia menjangkakan merdeka tahun 45. Dari tahun 20 dia sudah mengatakan, kalau kita dijajah Jepang nanti kita pasti merdeka.

Dia menjalankan trisakti itu benar semua, Pancasila itu benar semua, undang-undang dasar itu benar semua.Ketika dia dijatuhkan Pak Harto, di mana-mana terjadi deSoekarnoisasi. Kalau ada orang yang memasang gambar Pak Karno ditangkap, dipenjara. Saya tidak takut, malah memasang gambar banyak foto Bung Karno di rumah saya.

Ketika Bung Karno meninggal pada saat gawat-gawatnya 1970 saya menyatakan saya penyambung lidah Bung Karno, saya bangga dengan itu. Itu saya sumpah di makam Bung Karno. Resikonya tidak kecil saat saya mengatakan itu. Pada saat itu Pak Harto memburu saya, tahun 70-an saya dikejar-kejar, saya ditangkap polisi belasan kali,dipenjara satu kali, dihukum mati dalam BAP dua kali. Itu pada saat peristiwa 27 Juli dan pada saat peristiwa Semanggi.

Saya tertangkap di lapangan, saya di BAP polisi hukuman mati, tapi saya lolos yang menyelamatkan saya Pak Harto, Pak Harto sayang sama saya, sekalipun dia tahu saya penyambung lidah Bung Karno.Ketika saya tahu saya mau dihukum mati Pak Harto panggil Pak Benny Moerdani, Permadi dalam kesulitan kamu urus. Benny yang mengambil BAP di kantor polisi. Ketika saya dihukum di Yogya Pak Benny memasukkan 11 militer melindungi saya, karena saya mau dibunuh, dan itu bukti.

Pada waktu saya di Gerindra, Prabowo berpidato kepada kader Gerindra semua, dia bilang saya pernah mendapat perintah membunuh Permadi, tapi saya hormat sama dia karena dia tidak melakukannya, karena yang memerintah bukan Pak Harto, waktu itu yang memerintah Pangab,” cerita Permadi.

Ada yang memaknai Bung Karno akan balik lagi, anda percaya?”Bung Karno menurut keyakinan saya tidak meninggal tapi muksa, seperti Yesus Kristus, di gantungan salib mati, tiga hari hidup lagi. Karena itu banyak orang yang melihat Bung Karno di Bogor, di Blitar, di pantai selatan yah bisa saja, penglihatan beda-beda. Kalau saya ikut yakin Bung Karno tidak mati,”terang Permadi.

Bagaimana anda melihat UUD 45 dan Bung Karno ?”Bung Karno adalah arsitek undang-undang dasar. Banyak sekali masterpiece buatan Bung Karno, dan kalau kita lihat sebenarnya undang-undang dasar itu mencerminkan Indonesia sebagai negara kerajaan. Raja yang harus berkuasa karena itu presiden sangat berkuasa menjadi mandataris MPR. itu bisa menjadikan dia diktator tapi Bung Karno tidak mau seperti itu.

Rakyat yang dipentingkan.Kemudian diamandemenkan, saya anggota MPR waktu itu. Saya menolak, sekalipun Megawati tidak terima, saya menolak catatan amandemen undang-undang. Karena menurut saya itu ada pengkhianatan terhadap undang-undang dasar yang asli, terhadap Pancasila yang asli, termasuk SBY saya beritahu anda mengkhianati Pancasila, sehingga dia tidak mau bergaul dengan saya. Bayangkan sila ke-4, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat, kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Jadi kalau mau memutuskan yang penting harus melalui permusyawaratan perwakilan.

Pemilihan presiden, pemilihan kepala daerah, itu harus permusyawaratan perwakilan, tidak boleh langsung, itu pengkhianatan dalam Pancasila.Jadi Bung Karno itu ada sejarahnya mengapa dia merumuskan Pancasila, pada waktu itu rakyat Indonesia sekitar 100 juta di 17.000 pulau masih telanjang, masih nomaden, tidak ada televisi, tidak ada BH, jadi bagaimana mereka bisa kenal siapa Bung Hatta, siapa Syahrir, oleh karena itu harus ada perwakilan, perwakilannya kan ada di antara mereka yang sekolah sarjana, itulah yang diangkat sebagai DPR/ MPR, itu permusyawaratan perwakilan, jadi tidak ada pemilihan langsung. Nah, alasan zaman SBY waktu itu DPR bisa disuap, jadi ini harus kembali ke UUD 45. makanya itu saya itu keluar dari PDI,”pungkas Permadi.

Penulis adalah wartawan dan aktivis kebudayaan.

Loading...
Comments
Loading...