Desa Pancur Masih Pertahankan Tradisi Sedekah Bumi dengan Pagelaran Tayub Bojonegoro

94

Desa Pancur berada di ujung timur laut ibukota kecamatan (IKK) Temayang, yang kondisi warganya sebagian besar bekerja sebagai petani dan buruh tani dan sangat sedikit yang berdagang atau kerja swasta lainnya. Kondisi desanya dibelah oleh sungai Pacal sehingga membuat desa ini tersekat menjadi Pancur wetan (Pancur Timur) dan Pancur kulon (Pancur Barat).

Namun demikian, tradisi sedekah bumi dengan melaksanakan tumpengan alias selamatan yang digelar di Sendang Panji, Rabu (11/7/2018), tetap guyub dan rukun. Mereka yang berada di Pancur wetan dan Pancur kulon berkumpul bersama dalam suasana penuh keakraban.

Tampak hadir dalam kegiatan tersebut, Kepala desa Pancur Lulus Pujiono, beserta para perangkat desa, tokoh masyrakat dan semua warga desa tumplek blek di lokasi sedekah bumi atau yang biasa disebut manganan itu. Warga datang ke lokasi dengan membawa nasi dan ayam panggan serta kue-kue khas desanya itu.

Usai selamatan di sendang, sore harinya mereka berkumpul di halaman rumah Kepala desa setempat, untuk mengikuti Pagelaran tayub. Warga desa yang laki-laki dewasa turut beksan tayub yang berbaur dengan tamu dari luar desa serta tamu undangan lainnya.

Tampil memeriahkan Langen Tayub, 3 (tiga) waranggana yakni, Nyi Mujiati, Nyi Priyati dan Nyi Rumiati dengan Pramugari Ki Gabidi. Pagelaran tayub diiringi Kerawitan Taruno Budoyo pimpinan Ki Irikimo yang beralamatkan di Desa Budaya Jono, Temayang.

Suasana tasyakuran tumpengan di Sendang Panji, dalam acara sedekah bumi yang digelar di Desa Pancur, kecamatan Temayang, Kabupaten Bojonegoro, Jawa timur, Rabu (11/7/2019) pagi.

Kepada rakyatindependen.co.id Kades Pancur Lulus Pujiono mengatakan, bahwa kegiatan sedekah bumi itu, merupakan kegiatan yang masuk kalender tahunan yang selalu diselenggarakan setiap hari baik Rabu Pahing atau Jum’at Pahing, dengan perhitungan berada di bulan baik.

“Tradisi dan adat istiadat sedekah bumi, sudah menjadi hal yang wajib dilaksanakan di desa ini. Dalam sedekah bumi dilakukan tasyakuran dengan tumpengan di Sendang Panji dan dilanjutkan dengan pagelaran tayub. Tradisi turun temurun dari nenek moyang itu, terus kita jalankan secara rutin setiap tahun,” tegas Kades Pancur Lulus Pujiono, Rabu (11/7/2018).

Masih menurut Gus Lu – demikian, Kades Pancur Lulus Pujiono, akrab disapa – warga Desa Pancur sangat menghargai tradisi, adat istiadat dan budaya yang ditinggalkan oleh leluhurnya. Sehingga mereka sangat suka cita saat digelarnya kegiatan sedekah bumi ini.

“Saat tumpengan untuk bersyukur kepada Allah SWT yang digelar di Sendang Panji, warga desa baik laki-laki, perempuan, tua dan muda berbaur untuk berdo’a bersama demi keselamatan desa dan bersyukur atas panen tahun ini yang sangat melimpah,” ungkap Gus Lu.

Ditambahkan, saat Pagelaran tayub sore dan dilanjutkan malam hari, warga juga berbondong-bondong datang untuk mengikuti beksan atau hanya sekedar menonton saja.

“Ini jadi bukti bahwa warga Desa Pancur masih berkomitmen untuk menjaga tradisi, adat-istiadat dan masih “nguri-nguri budoyo Jowo”. Ini sebuah bentuk kondisi warga yang selalu guyub rukun untuk bersilatuhmi sehingga mampu mempererat tali persatuan dan kesatuan,” pungkasnya.

**(Kis/Advertorial).

Loading...
Comments
Loading...